RELIKUI SANTU KAMILUS DAN KEBANGKITAN ROHANI UMAT KEUSKUPAN RUTENG

  • Sharebar

Gambar Santu Kamilus de Lellis.

RUTENG, FLORES INDEPENDEN - Umat Katolik di Keuskupan Ruteng sepantasnya bersyukur karna menjadi salah satu wilayah yang mendapat lawatan istimewa relikui jantung Santo Kamilus de Lellis, pendiri Ordo Pelayan-Pelayan Orang Sakit atau Biara Kamilian.

Sejak kedatangannya pada 4 April 2019 lalu, dari Roma, selanjutnya Filipina, Jakarta, Labuan Bajo dan langsung menuju Ruteng, antusiasme umat Katolik di Ruteng dan dari paroki-paroki lain sekeuskupan Ruteng terlihat penuh kegembiraan dan suka cita. Hal ini terlihat dari ribuan umat selalu memenuhi setiap gereja atau rumah sakit yang mendapat jadwal kunjungannya. 

Tidak hanya itu, ada pula umat Katolik dari luar Pulau Flores datang ke Ruteng khusus hanya ingin melihat dari dekat relikui Jantung yang telah berusia lebih dari 400 tahun tapi tetap awet itu.


"Kami datang untuk berdoa dan melihat dari dekat relikui orang kudus ini, karna kalau harus berziarah ke Roma terlalu jauh dan butuh waktu yang lebih lama sehingga kami bersyukur bisa datang ke Ruteng untuk melihatnya langsung," ucap Yohanes, salah seorang umat Katolik dari Kupang usai mengikuti Misa bersama relikui St. Kamilus di Gereja Fransiskus Asisi Karot, Ruteng (7/4). 

Siapa Santu Kamilus?
Terlahir di daerah perbukitan hijau Abruzzo di Bukhianiko pada hari raya Pentekosta 25 Mei 1550, Kamilus de Lellis lalu bertumbuh sebagaimana para remaja lainnya yang terus mencari jati diri, terkadang hanyut dalam tawaran kehidupan yang penuh kesenangan bersama teman-teman sebayanya.

Sebelum Kamilus kecil lahir, ibunya, Kamila de Kompelis sempat bermimpi melihat  puteranya ini berada dibarisan paling depan para pemuda dengan salib merah di dada. Di usianya ke 17, Kamilus mengikuti jejak ayahnya bergabung dalam pasukan angkatan bersenjata Republik Veneta yang kala itu melawan orang Turki. 

Pada perjalanan menuju medan perang itu, Yohanes, ayahnya jatuh sakit dan wafat tak jauh dari kota Loreto. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi pemuda Kamilus. Paska kematian ayah dan ibunya, Kamilus menjalani hidup dalam penderitaan, luka berat di kaki kanannya menghantarnya menjadi penghuni Rumah Sakit St. Yakobus di Roma.

Pada 1 Pebruari 1575, pemuda Kamilus diundang ke biara St. Yohanes Rotondo, disinilah awal pengembaraan rohaninya disentuh ketika suatu sore, superior biara Kapusin, P. Angelo berkata padanya," Allah adalah segalanya, yang lain tidak ada. Menyelamatkan jiwa adalah tugas satu-satunya dalam hidup yang singkat ini."
Kata-kata itu menyentuh hatinya.

Sempat bergabung sebagai novis di  Fransiskan, sakit berbentuk luka pada kakinya kambuh lalu "membawanya pulang" ke Rumah Sakit St. Yakobus di Roma dan di sana dia berjumpa dengan orang-orang sakit lainnya dan melayani mereka. Dalam penderitaan itu, Kamilus merenungkan bahwa Allah mempunyai suatu rencana besar baginya.

Bersama 4 teman lainnya dibentuklah satu kelompok kecil sukarelawan yang bekerja memberikan pendampingan jasmani dan rohani yang lebih baik pada orang sakit. Hasrat Kamilus memberikan pelayanan yang lebih baik bagi orang sakit merupakan pergumulan imannya saat menjalani hari-hari panjang menjadi pelayan penuh kasih di rumah sakit tersebut setelah Biara Kapusin melepasnya  karna penderitaan luka pada kakinya.

Karya kerasulan bagi orang sakit yang dimulainya ini dilakukan di Rumah Sakit Roh Kudus, sebuah rumah sakit besar milik Tahta Suci yang diurus oleh Serikat Bruder Roh Kudus.

Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pendirian Serikat Pelayan-Pelayan Orang Sakit (Biara Kamilian) yang didirikannya dan pada 1586; Serikat inipun menerima pengesahan dari Paus Sixtus. Dalam wejangannya, dia menggariskan para pengikutnya yang bergabung agar  melayani orang sakit dengan kerajinan sebesar mungkin, dengan rasa hati seorang ibu terhadap anak tunggal yang sakit dan memandang setiap orang sakit sebagai Yesus sendiri.

Sebuah salib merah di dada yang selalu dikenakan pada jubah para imam Kamilian melambangkan kasih dan pengorbanan untuk orang-orang sakit. Kamilus wafat pada tanggal 14 Juli 1614 dalan usia 64 tahun dan pada tahun 1742 dia diangkat menjadi seorang Santo, dikemudian hari pada 1886, Paus Leo XIII mengumumkan Santu Kamilus menjadi pelindung rumah sakit dan orang-orang sakit.

Saat ini para biarawan, biarawati Kamilian bekerja di 41 negara di Eropa, Amerika, Asia, Afrika dan Ozeania. Mereka berkarya khusus dibidang kesehatan.

Kebangunan Rohani Baru
Relikui Jantung Santu Kamilus de Lellis kini telah berusia 405 tahun. Utuh dan tidak rusak pertanda hati dan hidupnya yang suci penuh kasih pada Allah terutama kehadirannya dalam diri orang-orang menderita. Jantung orang suci ini diambil dari tubuhnya 1 jam setelah wafatnya. Relikui tersebut disimpan di rumah induk Biara Kamilian di Roma Italia.

"Tujuan utama ziarah relikui ini, untuk memperkenalkan Santu Kamilus kepada umat Katolik di Indonesia termasuk spiritualitas pelayanan orang sakit yang dia wariskan. Tentu pada akhirnya agar umat berdevosi juga ke Santu Kamilus," kata Romo Ignasius Sibar, MI, pemimpin Biara Kamilian Ruteng.

Sore ini, Jumat (12/4/2019) dijadwalkan relikui St. Kamilus akan ditahtakan dan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi dan pelayanan doa untuk orang sakit di Gereja St. Mikhael Kumba di Ruteng. Ini merupakan hari terakhir lawatan relikui dan besok akan diantar menuju ke Maumere dan selanjutnya pulang kembali ke Roma Italia.

Tentu kesempatan ini menjadi waktu yang berahmat, setidaknya umat Katolik di Keuskupan Ruteng bisa berdevosi lebih khusus langsung di hadapan relikui yang telah dikunjungi jutaan peziarah dari seluruh dunia sejak 400 tahun lalu di Roma. Hidup Santu Kamilus telah menjadi tanda bahwa kerohanian bukanlah sesuatu yang sulit dan meragukan di tengah dunia dewasa ini tapi menjadi panggilan hidup yang terus menerus diusahakan. Dan Santu Kamilus menjadi inspirasi bagaimana dalam tantangan dan derita, Allah tidak pernah meninggalkan kita sendirian. (JIMMY)

tags: 
groups: