KOLOM: PELAKU BOM BUNUH DIRI HANYALAH KORBAN

  • Sharebar

0leh: Primus Dorimulu*

Satu keluarga, semuanya, tewas seketika akibat bom bunuh diri di tiga tempat terpisah di Surabaya, Minggu (13/5/18) pagi. Nyawa Dita Supriyanto, sang suami, melayang akibat bom bunuh diri di Gereja Pantekosta, Jl Arjuna. Sebelumnya, Dita menurunkan istrinya, Puji Kuswati bersama dua anaknya yang masih berusia 9 dan 12 tahun untuk melakukan bom bunuh diri di Gereja GKI, Jl Diponegoro. Dengan sepeda motor, dua putranya yang berusia 16 dan 18 tahun meledakkan bom bunuh diri di tempat parkir sepeda motor, Gereja St Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya.

Dalam sekejap, aksi terorisme itu menjadi topik dunia. Berbagai pihak mengutuk para pelaku bom bunuh diri itu.  Mereka lupa, pembawa bom bunuh diri hanyalah korban. Mereka nekat merenggut nyawa orang lain dengan meledakkan bom bunuh diri akibat brain washing atau cuci otak yang dialami. Mereka sama sekali tidak ragu meledakkan diri sendiri asalkan musuh terbunuh. Pekerjaan seorang teroris diyakini sebagai sebuah pilihan terbaik untuk menggapai kebahagiaan abadi sebagaimana doktrin yang mereka terima. 

Selama ini, yang dipersalahkan dan dihukum berat hanyalah para pelaku aksi terorisme, termasuk pelaku bom bunuh diri. Mereka  ditangkap, ditahan, diadili, dan dicebloskan ke penjara. Padahal, mereka hanyalah korban dari sebuah ideologi atau ajaran sesat. Sebagai korban, mereka adalah orang yang perlu diselamatkan. 

Umumnya para korban indoktrinasi ideologi sesat berasal dari kalangan yang sudah beragama, tapi pengetahuannya minim. Mereka hanya tahu sepotong-sepotong, sehingga mudah terbakar oleh hasutan. Golongan pertama ini bisa berasal dari kalangan ekonomi mapan dan berpendidikan. Keluarga Puji Kuswati yang membawa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/4/18), adalah keluarga kelas menengah.

Golongan kedua adalah mereka yang sangat miskin secara ekonomi. Dengan mudahnya mereka diyakini bahwa orang lain yang tidak sepaham adalah musuh yang harus dilenyapkan dan imbalannya adalah kebahagiaan setelah kematian. Banyak anak miskin berhasil direkrut para jihadis untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Daripada hidup susah di dunia, lebih baik segera meninggalkan bumi fana untuk meraih kebahagiaan yang luar biasa.  

Yang harus dihukum berat adalah pihak yang melakukan aksi brain washing. Semua pihak yang mengajari  deologi sesat harus dihukum seberat-beratnya. Keberadaan  dan  sepak terjang mereka harus dipantau, diteliti, dan jika terindikasi melanggar hukum positif, mereka harus ditangkap dan diproses secara hukum. Dalam konteks ini, UU Antiterisme Terorisme perlu segera diamandemen guna memberikan payung hukum kepada aparat penegak hukum untuk melakukan pre-emptive strike, menyerang lebih dulu kaum berani mati yang berencana melakukan pengeboman.  Tanpa hak menyerang lebih dahulu, Polri akan selalu terlambat dan mati sia-sia di tangan para jihadis.

Selain payung hukum bagi polisi untuk melakukan pre-emptive strike, perlu ada langkah preventif yang sistematis sejak anak usia dini. Tanpa langkah preventif, Polri hanya pemadam kebakaran. Penanganan aksi terorisme di Indonesia selama ini hanya menitikberatkan pada tindakan represif. Polri baru bertindak ketika ada ledakan bom atau perlawanan terhadap aparat penegak hukum. Tanpa mengendorkan langkah penanggulangan aksi terorisme, upaya paling penting yang harus dilakukan adalah tindakan preventif. 

Aksi terorisme yang paling berbahaya adalah  yang dilakukan oleh kaum radikal berdasarkan ideologi yang membajak nama agama tertentu. Mereka, para guru ideologi sesat itu, memposisikan diri sebagai pihak yang paling benar, paling saleh, yang mendapat panggilan Ilahi untuk memurnikan ajaran agama.  

Semua orang yang ideologinya berbeda, meski satu agama, disebut kafir. Mereka dengan mudahnya memberikan cap kafir kepada siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka. Mereka ingin mewujudkan negara berdasarkan ideologi mereka dan jika itu diperjuangkan dengan gigih sampai titik darah penghabisan, mereka akan masuk surga.  Semua pihak yang menghalangi niat mereka harus dibasmi.

Di Indonesia, para guru ideologi sesat itu menentang NKRI  yang pluralistik. Mereka menolak ideologi Pancasila dan UUD. Siapa saja yang menghalangi tujuan mereka dianggap kafir dan karena itu harus dilenyapkan dari muka bumi. Dalam konteks inilah, mereka memusuhi Polri, TNI, BIN, dan semua institusi yang melindungi negara. Semua simbol negara tidak mereka indahkan.

Dari hari ke hari, pengaruh mereka semakin kuat dan meluas. Doktrin mereka ditanamkan pada anak-anak hingga orang dewasa, yang miskin hingga yang kaya, di lembaga pendidikan maupun di luar institusi pendidikan. Mereka menguasai mimbar keagamaan hingga institusi sosial dan politik. 

Sesungguhnya tidak sulit mengenali para guru ideologi sesat itu.   Karena pernyataan mereka syarat ujaran kebencian dan hasutan untuk melenyapkan hak hidup orang lain yang tidak seideologi dengan mereka. Langkah mereka semakin gagah berani di tengah mayoritas yang diam. Kelas menengah yang tercerahkan lebih sibuk mengurusi diri sendiri daripada ikut terlibat membela kepentingan bangsa dan negara.

Sebagian mayoritas diam itu baru tersadar ketika ada ledakan bom bunuh diri. Tapi, reaksi mereka baru sebatas ikut mengutuk pelaku. Mereka mestinya bisa bertindak lebih jauh dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat. Kaum kelas menengah bisa lebih aktif dalam berbagai forum, termasuk dalam forum keagamaan. 

Radikalisme berbasis ideologi sudah berkembang sejak Orde Baru dan bertumbuh subur di era reformasi. Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo, guru besar UIN, Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan, hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Sekitar 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Pihak yang setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Radikalisme berbasis ideologi kian subur di Tanah Air akibat pengaruh global. Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 650 orang Indonesia yang ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Sekitar 500 orang sudah kembali. Survei The Pew Research Center pada 2015 menunjukkan, sekitar 4 % atau sekitar 10 juta orang warga Indonesia mendukung ISIS dan sebagian besar dari mereka merupakan anak-anak muda

Perlawanan para napi terorisme di Mako Brimo, pemboman di Surabaya, dan sejumlah tempat di Tanah Air selama delapan hari  terakhir ini berkaitan dengan gerakan ISIS. Para pelaku merupakan bagian dari jaringan terorisme internasional. Mereka meradang dan melakukan aksi bom bunuh diri, antara lain, dipicu oleh tindakan penegak hukum yang memenjarakan pemimpin mereka.

Terorisme global adalah suatu fakta. Tapi, radikalisme berbasis ideologi sesat yang berkembang subur di Indonesia sekitar 30 tahun terakhir adalah fakta lain yang harus segera kita respons. Lembaga pendidikan harus dibersihkan dari ideologi sesat yang bertentangan dengan Pancasila, UUD, serta hukum positif di Indonesia. Semua orang yang melakukan ujaran kebencian dan menebar permusuhan harus diproses hukum. Para pemimpin yang melancarkan brain washing, hasutan untuk menentang Pancasila dan UUD,  mengajak umatnya untuk melenyapkan hak hidup orang lain, harus diproses secara hukum. 

Saatnya, pemerintah bertindak tegas untuk menyelamatkan kapal besar bernama Indonesia. Bersihkan lembaga pendidikan formal dari radikalisme berbasis  ideologi sesat. Pastikan bahwa mereka, para guru jihadis itu, bukan mengajarkan agama, melainkan kejahatan terhadap bangsa dan kemanusiaan. Mereka membajak agama tertentu untuk mewujudkan tujuan mereka.  Membiarkan para guru jihadis bertindak bebas melakukan aksi cuci otak untuk membenci kehidupan bersama adalah dosa terbesar pemimpin bangsa.

(*Penulis adalah Pemimpin Redaksi BERITASATU Media Holding's. 
tags: 
groups: