KOLOM: NYEPI DAN PILKADA

  • Sharebar

Oleh Frans Anggal*

Hari ini, Sabtu 17 Maret 2018, umat Hindu merayakan Nyepi Tahun Saka 1940. Ini adalah perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan atau kalender Saka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Nyepi berasal dari kata “sepi”: sunyi, senyap, hening, diam.

Tidak seperti perayaan Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan Catur Brata Penyepian. Yakni, "amati geni" (tidak berapi, tidak gunakan dan/atau hidupkan api), "amati karya" (tidak bekerja), "amati lelungan" (tidak bepergian), dan "amati lelanguan" (tidak nikmati hiburan). Serta, bagi yang mampu, melaksanakan "tapa": berlatih ketahanan menderita; "brata": mengekang hawa nafsu; "yoga": menghubungkan jiwa dengan Tuhan; "semadhi": manunggal dengan Tuhan demi kesucian lahir batin (http://id.wikipedia.org).

Pada hari Nyepi, suasana seakan terasa mati. Tak ada kesibukan sebagaimana biasanya. Bandara internasional pun ditutup. Semua jenis pelayanan publik diistirahatkan, kecuali pelayanan rumah sakit. Dengan Catur Brata Penyepian, umat Hindu diharapkan memiliki kesiapan batin menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. 

Perayaan Tahun Baru Hindu layak dijadikan pelajaran bagi umat beragama lain. Yakni umat yang terbiasa dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang serba-wah. Terkesan tak ada sunyi di sana, yang ada hanya bunyi. Seakan tak ada refleksi di sana, yang ada hanya aksi. Seolah tak ada kontemplasi di sana, yang ada hanya visualisasi. Penuh pesta pora. Berfoya-foya. Bermabuk-mabukan. Bergelimang hiburan tak sehat. 

Perayaan Tahun Baru Hindu juga layak dijadikan pelajaran bagi warga sebuah republik bernama Indonesia, yang riuh-rendah, di sana semrawut , di sini kacau-balau, suka amuk, rusuh, bakar, bunuh .... Republik yang seakan kaya aksi dan anarki, tapi miskin refleksi dan kontemplasi. Apakah karena ini, dua kata bahasa negeri ini, “amok” dan “orang utan”, mudah diserap menjadi lema (entry) kamus bahasa Inggris? Entahlah.

Sulit dinafikan, sebagian masyarakat lapisan bawah ya begitu lakunya. Yang di lapisan atas pun demikian, tidak hanya begitu, bahkan lebih daripada itu. Lihatlah tingkah laku segelintir elite republik ini. Atau, yang kontekstual sekarang, tingkah laku elite pelaku pilkada (pilbup dan pilgub) di masa kampanye.

Di mata masyarakat, mungkin sekali lagi mungkin, mereka terkesan tidak menghayati sunyi, senyap, hening, dan diam. Mereka, barangkali sekali lagi barangkali, terkesan tidak mengenal dan tidak menghargai nyepi. Mereka, siapa tahu sekali lagi siapa tahu, terkesan tergila-gila pada “kata” dan “bicara”. Jangan-jangan, mudah-mudahan tidak, mereka---seperti ucap larik puisi Subagio Sastrowardojo---gemar “bersembunyi di belakang kata, dan menenggelamkan diri tanpa sisa”. 

Lalu, apa? Puisi Subagio melanjutkan gugatannya:

// Apakah hasil pembicaraan / Pertengkaran mulut atau bual sombong / sekadar membenarkan perbuatan / atau omong kosong mengisi waktu tak menentu. / Ah, baik diam dan merasakan keramahan / pada tangan yang menjabat dan mata merindu. / Dalam keheningan, detik waktu adalah pilu / yang menggores dalam kalbu //

Di mata masyarakat, para pelaku pilkada mungkin, sekali lagi mungkin, tidak tahu bahwa di luar “kata” dan “bicara” yang merasa berkuasa, masih ada “ruang kosong dan angin pagi”---masih ucap larik puisi Subagio. Ada hal-hal yang belum ditaklukkan oleh kata, tandas Goenawan Mohamad dalam esainya “Kata dan Diam”. 

Goenawan pun menulis: "Memilih diam dan membiarkan gerak sebelum wacana dikuasai logos, memilih diam dan membiarkan tubuh menyampaikan isyaratnya, memang tak selalu membuat hal jadi jelas. Tapi kita setidaknya lebih bisa tahu, bahwa kita tak harus 'menenggelamkan diri tanpa sisa' dengan 'bersembunyi di belakang kata'. Kita selalu bersisa. Dengan itu pula, kita bisa merdeka."

Selamat merayakan Nyepi. Selamat menjadi makhluk yang bersisa dan merdeka. Salam pilkada. ***

*) Penulis adalah kolumnis, mantan Pemimpin Redaksi Harian Umum FLORES POS.
tags: 
groups: