KOLOM: Minimnya Pemahaman Berbudaya Akibat Sepelehkan Literasi

  • Sharebar
Oleh : Oktavianus Saroyan Joat*
 
Manggarai merupakan salah satu daerah yang dikenal dengan kiblatan budaya yang sangat tinggi. Belajar berbudaya merupakan tindakan positif yang harus ditingkatkan, mengingat kurangnya kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya pada kaum muda dijaman yang bisa disebut jaman peralihan ini. 
 
Kurangnya kesadaran SDM (Sumber Daya Manusia) adalah alasan yang menjadi dasar seperti: tindakan berbudaya yang patut dijadikan contoh konkrit, perilaku mendengar yang diremehkan ketika upacara adat sedang dijalankan (sipi-sopok tombo do) dalam istilah Manggarai ini kiranya telah mendarah-daging.
 
Suatu kemajuan negatif yang diturunkan dari kaum tua menuju kaum muda yang memandangnya sebagai suatu keharusan. Upacara budaya dalam kaitannya dengan adat-istiadat adalah suatu tindakan sakral yang sangat erat kaitannya dengan tingkat kesuksesan suatu oknum dalam menjalankan rencana. Contoh kecil seperti upacara (Wuat Wa'i) yang dikukuhkan bagi suatu individu sebelum menginjakkan kaki menuju jenjang pendidikan. 
 
Dalam upacara seperti ini tentunya para petua keluarga sangat mengharapkan agar acara tersebut bisa berjalan dengan lancar. Namun, upacara sakral seperti itu dianggap lelucon diakibatkan kurangnya kesadaran masyarakat dalam memahami nilai berbudaya pada khususnya. Tanpa mereka sadari upacara seperti itu melibatkan leluhur yang telah berpulang kepangkuan yang mahakuasa berpuluh-puluh tahun lamanya. 
 
Pentingnya memaknai suatu ritual adat seperti ini perlu dijadikan andil mengingat kaum muda yang sedang berada pada situasi jaman peralihan seperti sekarang ini. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perpedaan pemahaman tersebut bisa jadi karena situasi kemajuan yang kurang dipahami oleh pelbagai lingkup masyarakat secara luas seperti kemajuan teknologi yang sangat tinggi. 
 
Pandai berangan menjadi seorang pemimpin juga mereka praktikan dalam upacara seperti ini seperti prilaku berbicara yang dianggap penting. Memang penting tetapi apakah yang mereka bicarakan memiliki makna?  Sedikit miris dengan tingkat pemahaman kaum muda dalam situasi jaman milenium ini, dasar berbicara tentunya membaca dan dasar membaca adalah kemampuan berpikir yang mutlak untuk dapat berkembang. 
 
Akibat dari menyepelehkan literasi sudah menjadi kebiasaan yang dipandang dari sudut berpikir mundur. Faktor psikologis manusia dalam lingkup masyarakat seperti ini perlu dioptimiskan demi kelangsungan budaya yang seharusnya tetap dipegang teguh dari para leluhur pada masa lampau sampai pada masa sekarang. Ciptakan keberagaman pola berpikir demi kemajuan daerah. Jangan sepelehkan Literasi, karena tong kosong nyaring bunyinya masih mendarah-daging. 
 
(*Oktavianus Saroyan Joat adalah alumnus Fakultas Sastra Universitas Kanjuruhan Malang.
tags: 
groups: