Disbudpar Manggarai Terus Gencarkan Promosi Pariwisata

  • Sharebar
Frumencius L.T.K. Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Manggarai
Ruteng, Floresindependen.com -  Untuk mengoptimalkan berbagai obyek pariwisata yang ada, pihak Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Manggarai telah membangun kerja sama dengan desa-desa melalui pemanfaatan dana desa yang dikenal dengan pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat.
 
Setiap masyarakat yang bermukim di berbagai obyek pariwisata juga akan dibina guna pengembangan ekonomi kreatif antara lain penyediaan souvenir, makanan lokal, juga pendampingan untuk bisa menyajikan atraksi budaya bagi para wisatawan yang berkunjung.
 
Hal ini dijelaskan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, Frumencius L.T.K, SE saat ditemui floresindependen.com di ruang kerjanya, Senin (15/1/2018).
 
Dijelaskannya, saat ini Disbudpar juga intensif mengembangkan kelompok-kelompok ekonomi kreatif yang ada di Kabupaten Manggarai untuk bisa masuk dalam pasar pariwisata global.
 
Dalam rangka ini, Disbudpar telah menjalin kerja sama dengan beberapa NGO antara lain Indecon, Swiss Contact, Asnikon, juga pihak bank, restaurant - hotel, Asita dan travel agent serta  komunitas lainnya seperti Komunitas Pencinta Ruteng, Komunitas Sanggar Seni, Komunitas Musik Ruteng, Moge serta sekolah-sekolah pariwisata seperti SMK dan SMIP yang ada di Kota Ruteng termasuk perguruan tinggi STP Bali, STP Bandung dan STP Makasar.
 
Kerja sama lainnya juga dilakukan dengan 52 komunitas biara dan paroki-paroki yang ada di sekitar obyek pariwisata seperti di Gunung Ranaka (Paroki Poka), Torong Besi (Paroki Reo), Gua Maria Golo Curu (Paroki Karot) dan situs Gereja Kathedral Lama (Paroki Kathedral Ruteng) yang dalam usianya ke-100 tahun nanti akan ditetapkan menjadi salah satu situs budaya dan sejarah nasional. 
 
Dalam bidang budaya, jelas Frumencius, dirasa belum maksimal dan akan terus diupayakan pengembangan lanjutannya seperti program revitalisasi budaya dengan cara membuka kerja sama dengan semua Gendang dan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh muda dan tokoh perempuan.
 
"Sekarang kami sudah mulai bergerak dengan tumbuhnya berbagai sanggar budaya. Kami akan buka ruang melalui Rumah Wunut sebagai rumah ekspresi, ruang bersama untuk mengekspresikan berbagai khazanah budaya Manggarai," jelasnya.
 
Wisata Religi 
Dalam kaitan dengan budaya, lanjut Frumencius, pihak Disbudpar Manggarai juga telah merintis kerja sama dengan pihak Gereja Lokal Manggarai yakni revitalisasi budaya dalam rangka pengembangan wisata religi karna Keuskupan Ruteng merupakan keuskupan dengan jumlah umat terbesar. 
 
"Manggarai punya keunggulan budaya sehingga perlu terus dikembangkan dan dijual sebagai aset atau potensi tak ternilai. Budaya kita dikenal sebagai budaya yang wellcome dengan semua tamu dari luar. Standar penerimaan terus dioptimalkan secara budaya," jelasnya.
 
Dijelaskannya, keberlanjutan dari situs budaya Liang Buah juga sudah dilakukan kerja sama dengan Balai Budaya Nasional Jakarta dan beberapa perguruan tinggi seperti UGM, UI, Unair, Udayana dan Undana untuk pengembangan Liang Buah sebagai pusat ilmu pengetahuan khususnya sejarah, Antropogi dan Arkeologi.
 
Direncanakan tahun 2018 ini selain melakukan lanjutan penelitian juga perbaikan sejumlah fasilitas yang ada di obyek wisata tersebut.
 
Berkaitan dengan pariwisata, menurut Frumencius, kedepannya pengembangan pariwisata Manggarai akan dilakukan melalui sistem zonasi. Pembagian dibuat dalam 3 zona yakni Zona Selatan dinamakan Zona Wae Rebo didukung oleh beberapa obyek wisata seperti Kampung Todo, Pulau Mules, Pantai Pasir Putih, Pantai Borik, Pantai Wae Maras, Watu Lajar, Hutan Lindung Ina Mbele dan Ulumbu.
 
Hal ini dimulai dengan pembangunan jembatan Wae Wuang tahun 2018 oleh BPBD sebagai akses penghubung Manggarai Barat dan Manggarai sehingga pilihan tamu dari Wae Rebo terbuka.
 
Zona Tengah brandingnya di Meler Cancar. Zona ini didukung agrowisata Mina di Dalo, Golo Timur, Kampung Ruteng Pu'u, Golo Curu, Poco Ranaka, Kathedral Lama, Rumah Wunut, Liang Buah, Air Terjun Tengku Lese dan agrowisata disekitar Kota Ruteng dan Wae Ri'i.
 
Zona Utara, lanjut dia, brandingnya yakni Air Terjun Tengku Siwa di Reo Barat. Obyek wisata ini didukung Pantai Torong Besi, Pantai Ketebe, Pantai Cengkalang sebagai cikal bakal awal Gereja Katolik Manggarai.
 
Termasuk dalamnya adalah rencana pengembangan wisata kuliner di tambatan perahu Gongger, Kampung adat Compang Cibal, Gua Liang Woja di Kecamatan Cibal juga wisata buatan Danau Wae Kebong tidak jauh dari Pagal.
 
"Semua potensi pariwisata unggulan ini akan dipasarkan melalui berbagai media massa lokal dan internasional termasuk website Dinas Pariwisata yang aktif sejak Oktober 2017," kata Frumencius.
 
Semua program tersebut dilakukan dalam rangka mendukung salah satu program unggulan Bupati Manggarai tahun 2018 dan lanjutannya dalam bidang Pariwisata.(JIM)
groups: