Polres Manggarai Dalami Misteri Kematian Tak Wajar Pria Asal Nangalili

  • Sharebar

IMJ, korban kekerasan yang ditemukan jasadnya di hutan bambu Arus Tureng Desa Legurlai Kecamatan Elar.

Laporan Wartawan Flores Independen, Konstantinus Hona

RUTENG, FI - Sungguh malang nasib IMJ (40) seorang pria asal Palis Desa Nangalili Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Dia ditemukan tewas diduga akibat penganiayaan menggunakan benda tumpul di wilayah hutan bambu Arus  Tureng Desa Legurlai Kecamatan Elar Kabupaten Manggarai Timur.

Pria yang memiliki tiga anak ini sebelumnya diketahui sempat mengalami percecokan dalam keluarga sehingga istrinya yang berinisial MVE (35) lalu memilih kembali ke kampung halamannya di Tureng Desa Legurlai Kecamatan Elar. Hal ini diungkap istri korban, MVE saat memberi keterangan di Polres Manggarai.

Dalam pengakuan MVE, pada hari Senin (25/7/2016) korban  (IMJ) menuju ke kampung halamannya di Tureng guna menjemput dirinya agar kembali ke Nangalili Lembor. Setiba dikampungnya sekitar pukul 10.00 wita, dia dan korban, IMJ lalu menggunakan sepeda motor menuju ke Marabola untuk menjenguk keluarga.

Dalam perjalanan menuju ke Marabola, kisah MVE lebih lanjut, korban lalu ditelpon oleh orang tidak dikenal, identitas pastinya tidak diketahui. Pada saat itu korban memintanya turun dari sepeda motor dan memintanya berjalan kaki mendahului. Sementara MVE berjalan, tiba-tiba datang tiga orang pemuda berbadan besar dan masing-masing menggenggam benda sejenis potongan kayu. Ketiga pemuda itu, menurutnya,  sangat asing walaupun berasal dari kampungnya sendiri selain dikarenakan wajah mereka terlihat samar-samar akibat gelap.

MVE yang bekerja  di Puskesmas Kempo Kecamatan Sano Ngoang Kabupaten Manggarai Barat mengakui, saat melihat kejadian itu dia langsung berlari menyelamatkan diri. Kejadian ini didiamkan dan tidak dilaporkannya pada pihak keluarga atau warga setempat.

Dua hari kemudian MVE menemui seorang dukun didesa itu untuk mencari tahu keberadaan suaminya, namun dia kaget ketika dukun itu menjelaskan bahwa suaminya telah meninggal dan meminta dirinya untuk mencari disekitar wilayah desa tersebut.

Pada Kamis (21/7/2016) ditemukan mayat korban di hutan bambu Arus Tureng Desa Legurlai Kecamatan Elar. Lain halnya penelusuran yang dilakukan Flores Independen dari sejumlah sumber mengatakan bahwa sejumlah pengakuan masyarakat  didesanya, tak jauh dari tempat kejadian naas tersebut dan penyampaian dukun yang sempat ditemuinya, MVE tidak terlibat dalam pencarian jenasah suaminya.

Keterangan Berbeda
Menurut pengakuan keluarga korban yang berasal dari Nangalili, Lembor bahwa korban diketahui berangkat dari rumahnya baru  pada hari Rabu (27/7/2016) sekitar pukul 14.00. Berbeda dengan pengakuan MVE  dalam keteranganya di Polres Manggarai menjelaskan bahwa suaminya tiba di kampungnya pada hari Senin (25/7/2016) pukul 10.00.

Hamsidin (48), kakak kandung korban, yang dihubungi Flores Independen melalui saluran telepon genggamnya mengatakan kaget dengan peristiwa yang dialami adik kandungnya menjelang akhir pekan ini. "Hari Rabu (27/7/2016) pagi dia sendiri (korban, Red) dengan pinjam motor temannya datang ketemu adik-adik dirumah sini. Saya sedang ditempat kerja. Adik-adik dirumah tanya mau kemana, dia jawab mau jemput istri dan anaknya  dikampung istrinya," kisah Hamsidin dengan terbata mengenang kejadian itu.

Hari Jumat (22/7/2016) malam sekitar jam 7, lanjut Hamsidin, pihak keluarga mendapat kabar kejadian tersebut dari seorang keluarga di Wae Nakeng ihwal ada penemuan mayat korban yang tak lain adalah adiknya sendiri. "Harapan keluarga kami semoga secepatnya masalah ini ditangani oleh Polisi dan cepat diketahui pelakunya. Pelakunya dihukum seberat-beratnya seperti perasaan duka sangat dalam yang kami rasakan saat ini," tuturnya. Hamsidin mengatakan kekecewaannya karena kejadian menyayat hati ini lewat begitu saja, MVE, istrinya tidak pernah menginformasikan pada keluarga Hamsidin apa yang sedang terjadi pada saudara mereka. "Ulang-ulang kami kontak ke handphone istrinya tapi tidak diangkat. Itu yang kami kecewa. Kami yakin ini mati tidak wajar," ungkapnya.

Dalam keterangan yang diberikan oleh MVE diceritakan bila suaminya ditelpon oleh orang tak dikenal ketika sedang dalam perjalanan menuju ke Marabola, namun menurut pengakuan dari masyarakat setempat, di sepanjang area jalan menuju ke Marabola tidak terjangkau signal hanphone. Area sekitar TKP tidak memiliki signal handphone untuk berkomunikasi.

Hasil visum
Sumber dari Polres Manggarai menyebutkan, dari hasil visum di RSUD Ben Mboi Ruteng, Kabupaten Manggarai bahwa korban meninggal akibat benda tumpul sehingga menyebabkan  pecah tulang tenggorak, terdapat luka robek pada leher dan dagu kanan.

Selain itu korban mengalami luka robek pada bibir kanan bawah dan bibir bagian kiri, terdapat lebam dilingkaran lengan kiri, luka gores dan lebam pada srotum, pembengkakan pada srotum, luka lecet pada tangan dan pinggang bawah sampai anus. Ada pula luka robek pada telinga kanan sekitar 3 cm dan patah tulang rahang kanan.

Sejauh ini pihak kepolisian dari Polres Manggarai sementara melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP)  dan setelah dilakukan visum, jenasah korban telah pula diserahkan kepada pihak keluarganya untuk dimakamkan. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, sementara istri korban, MVE masih diamankan di Polres Manggarai untuk dimintai keterangan. Hingga berita ini diturunkan, media ini belum berhasil mendapatkan konfirmasi resmi dari pihak Polres Manggarai tentang perkembangan penanganan kejadian dugaan kekerasan yang berakibat pada kematian tersebut. [] Editor : Jimmy

 
groups: